Tampilkan postingan dengan label Go Green. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Go Green. Tampilkan semua postingan
Selasa, 20 Desember 2011
PERAWATAN Mari...Kita Usir "Musuh-musuh" Karpet!
Seperti halnya sofa, karpet telah menjadi salah satu perabot setia menemani penampilan sebuah ruangan. Di samping mempercantik ruangan, karpet dapat menjadi alas duduk yang menggantikan keberadaan kursi.
Namun demikian, karpet ternyata punya banyak "musuh". Siapa lagi kalau bukan debu, noda makanan, hingga ompol si kecil.
Beberapa tindakan sederhana dapat dilakukah untuk mengusir musuh-musuh tadi. Yang penting, karpet harus dibersihkan secara teratur agar warnanya awet dan bebas dari kuman penyakit.
Untuk membersihkan debu yang menempel di karpet, Anda bisa menggunakan alat penghisap debu minimal tiga kali seminggu. Beberapa orang bahkan menaburkan soda kue ke atas karpet satu jam sebelumnya.
Sekali dalam enam bulan, cucilah karpet dengan deterjen khusus. Kegiatan ini akan merepotkan dan memerlukan tempat luas untuk menjemur. Oleh sebab itu, kita bisa memanfaatkan jasa pencucian karpet yang sudah jamak beroperasi.
Setiap dua atau tiga bulan sekali, kita bisa mengubah posisi karpet agar bidang yang kering terinjak atau dilewati orang bisa berganti posisi, sehingga warna karpet selalu seimbang (tidak terkesan belang).
Karpet juga tak bisa lepas dari ancaman noda, es krim misalnya. Bila terlanjur terpapar noda, kita bisa menggunakan alkohol. Caranya, basahi kain kering dengan alkohol lalu tekan kain secara perlahan pada karpet yang terkena noda es krim.
Namun, hati-hati, jangan sampai alkohol menembus bagian belakang karpet yang terbuat dari karet. Kemudian, tuangkan sedikit air yang dicampur dengan deterjen pada bagian terkena noda es krim sambil ditekan dengan kain lap.
Selanjutnya, ulangi beberapa kali pemberian larutan air dan deterjen tadi, lalu bilas dengan air hingga bersih. Kemudian, keringkan karpet dengan kain kering.
Lelehan lilin menjadi musuh paling berat bagi karpet. Namun, kita bisa coba membersihkannya dengan meletakkan selembar kertas di atas lelehan lilin yang mengeras, lalu timpa dengan setrika dengan tingkat pangs sedang. Diamkan sesaat hingga lilin panas dan terserap kertas. Selanjutnya, angkat kertas yang sudah terdapat lilin.
Tapi, bagaimana jika warna karpet memudar?
Kita bisa coba mengembalikannya dengan menaburkan garam dapur sebanyak mungkin dan diamkan sekitar satu jam. Lalu, bersihkan dengan penghisap debu.
sumber www.kompas.com
Lebih Hidup dan Lembut dengan Pagar Hidup
Pagar yang dibentuk oleh sekelompok tanaman akrab disebut pagar hidup. Berbeda dengan pagar dari besi, kayu, batu dan lainnya, pagar ini lebih lembut dan menyatu untuk taman.
Untuk membuat pagar hidup, tanaman yang sering dipakai adalah tanaman teh-tehan, karena strukturnya rapi, tebal dan mudah dibentuk. Tanaman soka dalam jumlah banyak juga sering dipakai. Keunggulan soka ialah akan memunculkan bunga berwarna merah sehabis dipangkas. Ini yang membuat taman menjadi lebih semarak.
Karena mengandalkan bentuk, pagar tanaman harus sering dipelihara dengan cara dipangkas. Baik teh-tehan atau tanaman soka, merupakan contoh tanaman yang tahan pemangkasan. Sementara, untuk menampilkan efek arsitektural, tanaman pucuk merah juga sering dipakai dengan warna merahnya yang khas.
Untuk Anda, pagar tanaman selain memberi tampilan hijau, juga dapat menghantarkan atmosfer alami pada fasad rumah. Selain itu, pagar juga memiliki fungsi ekologis. Air hujan yang mengenai dedaunan akan dihambat oleh tajuk daun sebelum jatuh ke permukaan tanah. Ini memberi kesempatan pada tanah untuk meresapkan air lebih banyak. Dalam jangka panjang, proses peresapan tersebut akan menjadi cadangan air bagi lingkungan rumah.
Untuk tinggi rendah tanaman pagar, tinggi optimal 1,5 meter, sedangkan panjangnya disesuaikan dengan tebal tanaman 30-50 sentimeter. Semakin tebal tanaman, maka akan meredam kebisingan.
Secara umum, tinggi rendah tanaman mencerminkan sifat penghuninya. Orang terbuka umumnya menyukai pagar yang rendah. Sementara pagar tinggi, mengindikasikan orang tersebut terjaga privasinya.
Senin, 09 Mei 2011
Hilangnya habitat anggrek endemik asli Indonesia.
Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia membudidayakan ratusan anggrek spesies endemik dari berbagai wilayah di Indonesia. Namun, sebagian besar tak bisa dikembalikan ke lokasi asal karena habitat rusak.
"Seperti koleksi anggrek Tien Soeharto (Cymbidium hartinahianum), endemik Tapanuli Utara, habitatnya berkurang drastis," kata Sofi Mursidawati, peneliti anggrek Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, Selasa (20/4/2011) di Bogor.
Anggrek Tien Soeharto ditemukan tahun 1976 oleh peneliti LIPI, Rusdi E Nasution. Pemberian nama Tien Soeharto sebagai penghargaan kepada Ibu Negara atas upaya pelestarian anggrek di Indonesia.
Anggrek Tien Soeharto sangat langka. Pertumbuhannya sangat lambat. Anggrek itu tumbuh baik pada ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut.
Daunnya berbentuk pita memanjang hingga 50 sentimeter. Bunganya kuning kehijauan dan permukaan bawahnya kecoklatan dengan warna kuning pada bagian tepinya.
Koleksi anggrek spesies Rumah Anggrek Kebun Raya Bogor lebih dari 500 jenis. Seratusan spesies di antaranya bisa diperbanyak dalam botol kultur jaringan. "Spesies endemik lainnya yang kehilangan habitat, seperti anggrek macan (Grammatophyllum speciosum)," kata Sofi.
Anggrek macan berbunga kuning kehijauan dan bertutul kecoklatan adalah endemik hutan dataran rendah. Habitat itu rusak akibat perubahan fungsi hutan.
"Ada anggrek ekor tikus (Paraphalaenopsis serpentilingua) dengan lokasi endemik Kalimantan Barat yang juga terancam di habitat aslinya," kata Sofi.
Tujuan awal budidaya anggrek di Rumah Anggrek adalah menyelamatkannya dari ancaman kepunahan. Selain itu, juga mengembalikan ke alam aslinya seiring keberhasilan pengembangbiakan di rumah kaca.
Namun, lanjut Sofi, kondisi habitat asli anggrek-anggrek langka terus terancam perusakan. Mengembalikan anggrek-anggrek langka tanpa adanya perlindungan nyata akan sia-sia.
Menurut Kepala Pembibitan Kebun Raya Bogor Yuzammi, pada dasarnya bangsa Indonesia kurang menghargai kekayaan keanekaragaman hayati. Satu per satu menghilang dan punah sebelum dibudidayakan lebih lanjut.
Tidak hanya pada tanaman anggrek, jenis tanaman endemik lainnya yang dibanggakan dunia pun tak pernah mendapat ruang penelitian yang memadai. "Seperti bunga terbesar di dunia yang memiliki lokasi endemik Sumatera, yaitu Amorphophalus titanum," kata Yuzammi.
Saat ini Amorphophalus titanum setidaknya tersebar di 6.000 kebun botani dan hutan buatan (arboretum) di Eropa dan Amerika. Di Indonesia masih banyak yang belum mengenal tanaman itu.
Amorphophalus titanum sering disalahartikan sebagai Raflesia arnoldi. Secara ilmiah, Amorphophalus tergolong primitif. Adapun anggrek adalah bunga berevolusi maju. (NAW/GSA)
Sumber www.kompas.com
"Seperti koleksi anggrek Tien Soeharto (Cymbidium hartinahianum), endemik Tapanuli Utara, habitatnya berkurang drastis," kata Sofi Mursidawati, peneliti anggrek Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, Selasa (20/4/2011) di Bogor.
Anggrek Tien Soeharto ditemukan tahun 1976 oleh peneliti LIPI, Rusdi E Nasution. Pemberian nama Tien Soeharto sebagai penghargaan kepada Ibu Negara atas upaya pelestarian anggrek di Indonesia.
Anggrek Tien Soeharto sangat langka. Pertumbuhannya sangat lambat. Anggrek itu tumbuh baik pada ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut.
Daunnya berbentuk pita memanjang hingga 50 sentimeter. Bunganya kuning kehijauan dan permukaan bawahnya kecoklatan dengan warna kuning pada bagian tepinya.
Koleksi anggrek spesies Rumah Anggrek Kebun Raya Bogor lebih dari 500 jenis. Seratusan spesies di antaranya bisa diperbanyak dalam botol kultur jaringan. "Spesies endemik lainnya yang kehilangan habitat, seperti anggrek macan (Grammatophyllum speciosum)," kata Sofi.
Anggrek macan berbunga kuning kehijauan dan bertutul kecoklatan adalah endemik hutan dataran rendah. Habitat itu rusak akibat perubahan fungsi hutan.
"Ada anggrek ekor tikus (Paraphalaenopsis serpentilingua) dengan lokasi endemik Kalimantan Barat yang juga terancam di habitat aslinya," kata Sofi.
Tujuan awal budidaya anggrek di Rumah Anggrek adalah menyelamatkannya dari ancaman kepunahan. Selain itu, juga mengembalikan ke alam aslinya seiring keberhasilan pengembangbiakan di rumah kaca.
Namun, lanjut Sofi, kondisi habitat asli anggrek-anggrek langka terus terancam perusakan. Mengembalikan anggrek-anggrek langka tanpa adanya perlindungan nyata akan sia-sia.
Menurut Kepala Pembibitan Kebun Raya Bogor Yuzammi, pada dasarnya bangsa Indonesia kurang menghargai kekayaan keanekaragaman hayati. Satu per satu menghilang dan punah sebelum dibudidayakan lebih lanjut.
Tidak hanya pada tanaman anggrek, jenis tanaman endemik lainnya yang dibanggakan dunia pun tak pernah mendapat ruang penelitian yang memadai. "Seperti bunga terbesar di dunia yang memiliki lokasi endemik Sumatera, yaitu Amorphophalus titanum," kata Yuzammi.
Saat ini Amorphophalus titanum setidaknya tersebar di 6.000 kebun botani dan hutan buatan (arboretum) di Eropa dan Amerika. Di Indonesia masih banyak yang belum mengenal tanaman itu.
Amorphophalus titanum sering disalahartikan sebagai Raflesia arnoldi. Secara ilmiah, Amorphophalus tergolong primitif. Adapun anggrek adalah bunga berevolusi maju. (NAW/GSA)
Sumber www.kompas.com
Langganan:
Postingan (Atom)



