Tampilkan postingan dengan label Gadget. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gadget. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Mei 2011

Motret dengan Sony Alpha, Berasa Bukan Pemula


PT Sony Indonesia serius dalam persaingan produk kamera digital jenis DSLR. Hal ini makin ditunjukkan dengan dikeluarkannya produk kamera DSLR generasi terbaru yaitu Alpha 55 dan Alpha 33.
Alpha 55 dan Alpha 33 bisa dikatakan merupakan produk yang terlihat lebih kompak namun memiliki fasilitas yang membuat penggunanya bisa menghasilkan foto-foto yang tidak kalah baik.
"Alpha 55 dan Alpha 33 mengusung teknologi terbaru dari Sony. Dilengkapi dengan teknologi Traslucent Mirror, menghadirkan berbagai fungsi baru yang sebelumnya cukup sulit dihadirkan pada sebuah kamera DSLR," kata Danu Sagoro, Product Marketing Digital Imaging Sony Alpha, dalam acara Media Gathering, di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Rabu (23/2/2011).
Produk ini mengganti kotak cermin yang digunakan pada kamera DSLR konvensional dengan sebuah kotak cermin yang berisi cermin tembus cahaya, sehingga tidak lagi diperlukan cermin yang membuka tutup seperti yang digunakan pada kamera DSLR saat ini. Dengan kata lain, obyek bisa direkam oleh sensor gambar dan sensor auto focus tanpa harus menunggu cermin terangkat setiap menekan shutter kamera.
Dengan teknologi ini, pengguna bisa menangkap obyek bergerak dengan kecepatan rekam sepuluh frame per detik (Sony Alpha 55) dan tujuh frame per detik (Sony Alpha 33). Teknologi Translucent Mirror dimaksimalkan dengan lima belas titik fokus pada sensor. Membuat produk ini dapat dengan stabil mengoperasikan fungsi auto focus yang cepat dan tepat ketika melakukan perekaman film Full HD.
Sony Alpha 55 dan Alpha 33 menggunakan sensor Exmor APS HD CMOS sebagai sensor gambar. Dapat mengabadikan gambar hingga 16,2 megapixel pada Alpha 55 dan 14,2 megapixel pada Alpha 33. Sensor ini membuat kedua produk mampu mereduksi noise walaupun menggunakan ISO tinggi.
Salah satu fasilitas yang bisa digunakan untuk mereduksi noise adalah multi-frame otomatis, di mana kamera merekam obyek dengan enam frame sekaligus kemudian menggabungkannya menjadi satu frame. Kompas.com yang sempat menjajal fasilitas ini mendapatkan hasil foto dengan noise sangat sedikit bahkan ketika menggunakan ISO 25600.
Kamera Alpha 55 dan Alpha 33 juga dilengkapi dengan fasilitas AUTO+ di mana kamera dapat menganalisa obyek dan kondisi pengambilan gambar. Sehingga fotografer tidak perlu takut mendapatkan hasil gambar yang terlalu gelap (under exposure) ataupun terlalu terang (over exposure).
"Untuk memenuhi kebutuhan pengguna produk kamera Sony Alpha. Kami pun sudah melengkapi aksesoris pendukung seperti lensa tele, wide, dan fish eye," kata Danu Sagoro. Dari hasil penelusuran Kompas.com, lensa khusus kamera DSLR Sony Alpha memang cukup variatif. Bahkan bisa dikatakan lengkap dengan pilihan variatif.


Sumber : www.kompas.com

Smartphone kaula muda Android pilihan nya.




Harga smartphone berbasis Android makin terjangkau dan dapat diperoleh dengan harga di bawah Rp 2 juta. Galaxy Mini, produk terbaru yang dikeluarkan Samsung, produsen ponsel asal Korea Selatan tersebut, misalnya, hanya dibanderol Rp 1,6 juta.
Meski murah, fiturnya tak kalah canggih. Bahkan, sistem operasi yang digunakan sudah Android 2.2 Froyo dan didukung prosesor berkecepatan 600 MHz. Smartphone mini dengan layar sentuh berukuran 3,14 inci ini menyediakan memori internal 160 MB, kamera 3 megapiksel, radio FM, bluetooth, GPS, konektivitas 3G yang sudah mendukung HSDPA, slot microSD berkapasitas hingga 32 GB, dan Wi-Fi.
Dalam penjualannya di Indonesia, samsung menggandeng Telkomsel dalam paket bundling. Paket smartphone Samsung seri S5570 itu dalam paket penjualannya dilengkapi perdana simPATI dengan harga tepatnya Rp 1.599.000. Telkomsel sendiri telah menyediakan layanan akses internet unlimited mulai seharga Rp 50.000 perbulan yang bisa digunakan untuk browsing, email, chatting, dan social networking.
"Harapan kami, paket Samsung Galaxy Mini Telkomsel membuat masyarakat lebih mengenal layanan berbasis Android. Dengan mengeksplorasi secara bertahap, dapat merasakan pengalaman menggunakan berbagai aplikasi menarik Android di smartphone ini," kata VP Channel Management Telkomsel Gideon Edie Purnomo dalam siaran pers yang diterima Kompas.com.
Produk ini ditujukan bagi kalangan muda. Yoo-young Kim, Managing Director PT Samsung Electronics Indonesia, menyatakan, Samsung mulai melihat perkembangan smartphone dengan basis Android tidak hanya di kalangan profesional, melainkan juga bagi anak muda. Menurutnya, anak muda merupakan pasar yang sangat sesuai untuk Android karena mereka selalu memiliki semangat ingin memiliki pengalaman baru.
"Melalui Samsung Galaxy Mini dengan sistem operasi Android Froyo, anak muda dapat menikmati pengalaman menyenangkan dengan berbagai macam aplikasi dan social hub yang telah terintegrasi sehingga memungkinkan mereka memilih cara berhubungan dengan sahabat dan keluarga," papar Yoo-young Kim.
Samsung Galaxy Mini ini tersedia di 50 gerai ponsel berlogo Samsung di Jakarta, Bandung, Medan, Pekanbaru, Padang, Palembang, Bandar Lampung, Batam, Banjarmasin, Pontianak, Balikpapan, Samarinda, Makassar, Kendari, Palu, dan Manado.

Sumber : www.kompas.com

Minggu, 06 Maret 2011

FaceTime Aplikasi Andalan IPAD2

Setelah sukses diadopsi pada iPhone 4, iPod Touch, dan komputer berbasis Mac, FaceTime mulai dikenalkan di iPad 2. Tak heran jika Apple berantusias mengenalkan aplikasi ini. FaceTime bukanlah sebuah fitur sangat baru didunia telekomunikasi seluler. Sejak pertama kali jaringan 3G dikenalkan pada halayak luas, video call menjadi fitur paling diandalkan. Namun faktanya tidak terlalu banyak digunakan oleh pengguna, seperti di Indonesia. Apalagi kualitas jaringan yang belum memadai seringkali jadi kendala dalam hal signal dan kualitas gambar yang dikirimkan.
Namun, video call versi Apple punya cara dan kelebihan sendiri. FaceTime yang pertama kali dikenalkan di iPhone 4 memanfaatkan internet sebagai media. Jadi tidak langsung menggunakan jaringan seluler seperti halnya video call 3G yang kita kenal. Lewat VoIP (Voice over Internet Protocol) inilah FaceTime bekerja. Ia mengusung sedikitnya empat teknologi. Antara lain coding decoding yang menggunakan format H-264 dan ACC. Kemudian protocol untuk proses sinyalnya memakai SIP (Session Initiation Protocol) dan IETF (Internet Engineering Task Force). Sementara untuk traversing firewall dan NAT-nya memakai STUN, TURN, dan ICE. Selanjutnya untuk proses real-time-nya dan enkripsi streaming media melalui VoIP memanfaatkan RTP dan SRTP.

Dalam format iPad, FaceTime menjadi lebih menarik, karena ukuran gambar gerak lawan bicara bisa disetting sesuai denag ukuran layar seluas 9,7 inci. Walaupun sebenarnya jika memakai Mac bahkan jauh lebih besar lagi. Ini lah yang tidak dimiliki oleh fasilitas chat video yang umumnya hanya beresolusi kecil dan tampak mungil di layar komputer.

FaceTime yang dibeli Apple dari perusahaan bernama FaceTime Communication ini sangat mudah digunakan. Pengguna hanya perlu memiliki ID Apple untuk mengoperasikannya. Daftar kontak tersedia agar Anda mudah mencari lawan bicara. Selanjutnya seperti melakukan panggilan voice biasa.

Bagi Apple, FaceTime merupakan sebuah fitur multiperangkat. Oleh karena itu, pemakaian FaceTime bisa saling-silang komunikasi, tidak selalu antara iPad dan iPad. Namun bisa crossing ke Mac, iPhone, maupun iPod Touch generasi terbaru.

Karena berbasis internet, sesungguhnya konektivitas ke server bisa menggunakan opsi Wi-Fi maupun jaringan seluler. Namun, sejak awal Steve Jobs sudah wanti-wanti bahwa FaceTime hanya bekerja pada jaringan Wi-Fi. termasuk pada iPad 2.
Apa boleh buat, FaceTime barangkali akan menjadi pesaing Skype yang lebih dulu ada.

SUMBER : www.kompas.com dan FORSEL